Jumat, 04 November 2011

Cerita aku dan Sekolah ku




       


        3 tahun aku sekolah di sini, SMP Negeri 10 Palembang. Banyak cerita yang aku dapatkan dari sini, ada suka, marah, jengkel, sahabat, bahkan naksir cewek.
Mut'thasi; temen semejaku waktu waktu kelas satu,VI 4.Dia teman SMP ku juga. Aku semeja dengan Mut'thasi lumayan lama juga. Kelas satu memang baru waktunya untuk saling mengenal.
Kelas dua, VII 3, Bani teman semejaku. Ah, banyak cerita tentangnya. Awalnya gokil, “saru” ya itulah Bani , tapi lama-lama biasa juga. Kelas dua ini juga aku mulai naksir ma .... .Dasar, ga nyangka banget bisa naksir dia.


         Kelas tiga,SE.NAM, Ocsha, nah ini nih teman semejaku yang gokil abis, obsesi jadi musisi. Yah, itulah dia. Kau kan ku kenang selalu bro. Sukses buat masa depanmu! Walaupun aku ga tau kamu nganggep kepiye ma aku (walah, bahasane kui lho,,,,) tapi harus ku akui, you’re my best friend. Satu saat nanti kangen pasti ada, kita akan jarang ketemu, dan jika itu terjadi, biarlah buku itu yang bercerita. Masih banyak sih temen-tenen yang lain, tapi aku udah capek nih ngetiknya, hehehehe,,,,,,, Pokoknya, thanks deh buat semuanya, yang ga aku sebutin jangan marah ya,, Pisssssssss!!!!!

ada apa dengan cinta









Satu masa telah terlewati

Benci dan rindu merasuk di kalbu

Ada apa dengan cintaku

Sulit untuk aku ungkap semua

Jangan pernah bibir tertutup

Bicarakan semua yang kau rasakan

Cinta itu kita yang rasa

Bila sengsara hati kan merana

Wahai pujangga cinta

Biar membelai indah

Telaga di kalbuku

Jujurlah pada hatimu

Ada apa dengan cinta
SAMA SAMA PELUPA


Ocsha adalah seorang suami yang sering ‘Jajan’ di komplek lokalisasi. Suatu malam ketika ia selesai kencan dengan isterinya sendiri, Ocsha langsung menyerahkan uang lima puluh ribu kepada sang isteri dan buru-buru mengenakan celana panjang.

Saat sang isteri pergi ke kamar mandi, Ocsha baru sadar bahwa kebiasaan itu hanya berlaku untuk seorang pelacur yang melayaninya, bukan untuk sang isteri.

“Celaka ! Pasti isteriku akan tahu kalau aku sering jajan di tempat begituan?!” gumam Ocsha dengan cemas.
Ia tak punya alasan untuk menarik kembali uangnya itu.

Tapi ketika sang isteri keluar dari kamar mandi, ternyata ia langsung di dekati oleh sang isteri yang berwajah berang.

Sang isteripun membentaknya: “Hei, kurang nich! Biasanya seratus ribu, kenapa kau kasih cuma lima puluh
ribu?!”
Ocsha: “Biasanya… ?!”
“Oh, hmm, eeh… anu… maksudku…” sang isteripun gugup dan pucat sekali.